Rekans

Sunday, November 16, 2008

Selamat Jalan Jorn


Sepak bola memang penuh pesona,..
Ini dapat dilihat, pabila seseorang yang memiliki hobby bermain sepak bola, maka akan membawanya kemanapun dia pergi. Demikian pula halnya,..rekan kami 'Jorn'', yang kami panggil cukup dengan Jon,..
Sabtu lalu (15 Nov 2008), Jon secara resmi mohon izin untuk di masa mendatang tidak bergabung kembali dengan tim sepakbola sabtu sore di Tasbi-Medan, karena dia dan keluarganya harus kembali ke negaranya Norwegia
Jorn sebagai mana yang diuraikan di atas, adalah sosok pria yang di negeri asalnya adalah pemain sepakbola di salah satu divisi di negeri tersebut. Dikarenakan tugas kerja, Jon dikirim ke Indonesia dan telah bertugas selama lebih kurang dua tahun, demikian pula halnya selama itu pulalah Jon selalu bergabung di sabtu sore untuk bermain sepak bola di Tasbi - Medan.
Ada yang berbeda dalam kebersamaan itu, kalau di negerinya,..Jon memiliki klub yang saya yakini memiliki skill di atas rata-rata kita disini, namun di medan Jon harus bergabung dengan klub yang tidak formal yang merupakan kumpulan semua orang dengan latar belakang yang sangat beragam yang hobby sepakbola walaupun tidak memenuhi skill dasar sepak bola.
Dan sekali lagi,.....sepakbola telah membuktikan bahwa "si bola bundar'' telah mampu menyihir banyak orang untuk bergabung dalam satu permainan yang sama, tanpa memandang latar belakang orang yang memainkannya
Selamat Jalan Jorn,....Jon,...semoga selamat kembali ketempat tujuan,..dan horassss

Monday, October 20, 2008

Ikalima


Momentum 'reuni' ternyata memang membawa kita kepada masa lalu yang kerap kita sebut dengan kenangan. Demikian pula halnya, reuni yang oleh kita lebih menggunakan kata 'gathering' IKA LIMA (Ikatan Alumni SMA 5 Medan) telah dilaksanakan di Telaga Golf Sawangan, pada hari Sabtu, tanggal 18 Oktober 2008. Yang dihunjuk sebagai host ataupun tuan rumah adalah Dr. Pahala Manurung.


Yang sangat menarik dari seluruh rangkaian acara yang menarik itu adalah hadirnya undangan istimewa yakni Utha Likumahuwa yang dengan indahnya membawa beberapa buah lagu yang terasa sangat mempesona dengan tembang 'Untuk Apa Lagi',..

Memang pertemuan silahturahmi yang dirancang dengan sederhana dapat juga melahirkan hal-hal yang istimewa dan lebih mampu menjadi fungsi stress release bagi kita semua

Wednesday, August 20, 2008

TCDPAP Seoul


Pertemuan Technical Consultancy Development Program for the Asia and Pacific (TCDPAP) rupanya menjadi momentum untuk melihat lebih jauh tentang positioning profesi diri yang selama ini kita lakoni. Betapa tidak, kehadiran peserta yang menjadi members TCDPAP ditambah dari FIDIC telah mempertunjukkan secara tidak langsung disparitas antara negara maju dan berkembang. Sebut saja Korea, Jepang, China dan beberapa lainnya hadir dengan inovasi konsultansi yang sangat mempesona. Dan ini akan menjadi terlihat pabila lakon yang sama terimplementasi di negara berkembang (under developing countries) seperti: Nepal, Srilanka, Bangladesh dan ,...tidak perlu malu menyebut Indonesia

Disaat berbincang-bincang dengan perwakilan Korea yang menjadi tuan rumah dalam acara tersebut, terlihat antusias mereka untuk ber-sinergi dengan kita yang relatif masih dibawah mereka dari sisi ekonomi dan ikutannya. Tidak bermaksud men-dikotomikan keadaan tersebut, tentunya yang menjadi keheranan adalah muncul/lahirnya gagasan mereka untuk menumbuh kembangkan infrastruktur di tanah air (indonesia), khususnya pulau sumatera.
Satu kata "PERLUASAN PASAR/EKONOMI" tentunya menjadi keywords yang mendorong mereka untuk mewujudkan ivestasi tersebut.

Monday, February 11, 2008

Adu Pinalti yang mendebarkan


Pertandingan PSMS vs Persipura, ternyata sangat mendebarkan. Betapa tidak, langkah demi langkah setiap pemain saat akan meng-eksekusi pinalti terasa begitu "mencekam". Ditambah adanya upaya "perang mental" yang dilakukan oleh masing-masing kiper dengan calon peng-eksekusi pinalti tersebut. Memang akhirnya PSMS yang keluar menjadi pemenang. Namun tidak dapat dipungkiri, kalau Persipura adalah "Tim Masa Depan" dan harapan Indonesia. Dan yang sangat memilukan,..ternyata diluar stadion terjadi tindak kekerasan antar pendukung kesebelasan menyusul kekealahan tim Persipura tersebut. Sekali lagi,...PSSI harus menuai "citra buruk" atas kejadian semua ini.

PSMS-Persipura


Lanjutan semifinal Liga Divisi Utama PSSI, dilaksanakan pada hari Rabu, 6 Februari 2007 bertempat di stadion senayan (gelora bung karno). Pertandingan pertama dilaksanakan antar PSMS (Medan) vs Persipura (Jayapura). Setelah menjalani masa waktu 2 x 45 menit ditambah perpanjangan waktu 2 x 15 menit, kedua tim hanya berhasil bermain imbang (draw) dan dilanjutkan dengan adu tendangan pinalti. Lima "penembak" dari masing-masing tim menghasilkan 4 gol dan 1 gagal, dan ditambah masing-masing 1 orang penembak, yang akhirnya gagal oleh persipura dan berhasil oleh PSMS melalui Saktiawan Sinaga sekaligus menebus kegagalan atas beberapa peluang-peluang yang tidak bisa dimanfaatkan dengan baik olehnya.

Tuesday, April 24, 2007

Taiwan Tunnel



Sistim infrastruktur yang baik dan prima adalah salah satu kebutuhan yang "harus" di dalam upaya menunjang program untuk mewujudkan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di setiap negara.

Menyadari hal ini, Taiwan yang merupakan negeri yang telah memiliki stabilitas di bidang ekonomi berupaya terus menerus melakukan peningkatan layanan infrastruktur yang sempurna. Sebut saja mimpi mereka yang telah menjadi kenyataan dengan hadirnya gedung tertinggi di dunia yakni 101 building serta memiliki terowongan yang terpanjang di asia, yang menghubungkan kota Taipei dengan Ilan

Dengan menggunakan sumber daya manusia yang ada dinegeri tersebut mereka mewujudkan segala sesuatunya dengan baik dan mendekati sempurna

Tuesday, April 17, 2007

Sub Tropis Taiwan


Menjelang hari gelap/senja, kami sudah diterima oleh tim kamar dagang Indonesia (KDI) yang ada di Taiwan. Keramahtamahan saudara-saudara kita yang menjadi ciri bangsa tetap terjaga dan kami rasakan malam itu. Rombongan Jasa konstruksi yang terdiri dari 16 orang utusan Sumatra Utara semuanya merasakan keakraban yang disajikan oleh rekan-rekan dari KDI itu.
Udara dingin dengan temprature 7 derjat C, cukup membuat tubuh kita menggigil, dan menciutkan kulit permukaan tubuh sekaligus bibir. Namun, semua itu menjadi bagian dari sebuah kenangan yang mengisi program tukar menukar informasi antara dunia konstruksi Indonesia dan Taiwan

Monday, November 13, 2006

Beras Murah,..??


Beberapa waktu yang lalu, kita dihadapkan dan kerap mendengar tentang issu beras import yang cukup menyesakkan dada para petani kita di negeri ini. Kesesakan itu sangat beralasan karena disatu sisi Pemerintah mendorong dan mengupayakan tentang swasembada pangan namun disisi lain upaya dan kemauan Pemerintah untuk mendukung sektor pertanian itu kelihatan setengah hati.

Petani sudah tetap menjadi objek yang terperdayakan, dan ayunan cangkul mereka terkadang harus terhenti oleh menurunnya semangat untuk bekerja, bukan karena tidak kuat dan mampu lagi. Penurunan semangat tentunya bermuara dari sangat kurangnya dukungan Pemerintah akan nasib Petani. Hal ini tentu dapat diukur dari tingkat kehidupan dan kesejahteraan petani yang mengalami degradasi terus menerus dari tahun ke tahun.

Era Orde Baru, kita sudah dibawa ke alam mimpi dengan transformasi ekonomi dari sektor pertanian ke arah sektor industri. Potensi-potensi pertanian yang sudah kita ketahui melalui pendidikan dasar seperti Kerawang yang terkenal dengan lumbung padinya sudah berubah menjadi daerah industri. Rumus-rumus ekonomi yang bermuarakan "pertumbuhan ekonomi" rupanya telah mengalihkan perhatian para Petinggi dan Cendekiawan negeri ini pada saat itu. Lapangan kerja industri setidaknya telah merangsang para petani untuk bekerja di sektor industri ini dan meninggalkan pertanian, walau sebagian saja. Lalu,....ternyata walau sebuatan NIC (newly industry country) telah disebutkan ke negeri ini ternyata sekarang adalah kebingungan dan pengangguran yang terjadi.

Semudah itukah merubah negeri yang berbasiskan agraris ini kepada industrialisasi,..?

Saturday, November 04, 2006

UKP3R

semua elite pada kebakaran jenggot,...
negative thinking adalah kesehariharian orang-orang hebat itu
"positive thinking" menjadi barang aneh di negeri ini

Thursday, November 02, 2006

Menabung

Masih ingat dengan "program" menabung nasional dari Pemerintah..??
Masih jelas dalam ingatan kita kalau dalam 2 dekade yang lalu, Pemerintah begitu gencarnya mensosialisasikan program "menabung".
Ada "simpedes", ada "tabanas"dan lainnya, yang memeberikan fasilitas tabungan kepada masyarakat kita seluruhnya, mulai dari pelajar SD, SMP, SMA hingga Mahasiswa. Dengan nominal Rp. 10.00,- s/d Rp. 50.000,- kita sudah memiliki tabungan di bank. Pelaku-pelaku bank pada umumnya datang dan proaktif ke sekolah-sekolah.
Semua itu dilakukan karena Pemerintah sangat menyadari penting "menabung" secara Nasional yang tentunya berdampak kepada moneter. Banyak sekali yang terpengaruh disana kalau kita melihat dari sisi variabel-variabel makro ekonomi, seperti : national saving, inflasi, nilai tukar, dan lain-lain
Lalu, apa yang terjadi sekarang,.....
Kebijakan perbankan yang mengambil dana nasabah penabung melalui administrasi tabungan ternyata telah menghapuskan manfaat menabung tersebut. Hal itu dapat dilihat dari, besarnya biaya administrasi telah melampaui penerimaan nasabah melalui bunga bank atas dana yang ditempatkannya dengan pendekatan tabungan s/d Rp. 5.000.000,-. Yang artinya apabila kita menabung dibawah Rp. 5.000.000,-, maka dapat dipastikan melalui perhitungan matematis yang sangat sederhana, dana tabungan kita tersebut akan habis ditelan bank secara perlahan tapi pasti dalam kurun waktu tertentu.
Apakah kondisi ini disadari oleh Pemerintah,....?
Memang dampaknya untuk jangka pendek belum terasa, tapi marilah Pemerintah bersiap-siap mengahadapi dampak negatif yang cukup signifikan di jangka menengah dan panjang.

Tender Dilakukan Secara Terbuka

http://www.kompas.com/ver1/Ekonomi/0609/15/114527.htm

Sunday, October 29, 2006

Gelisah

beberapa waktu yang lalu, aku melihat sosok wanita yang sedang mengumpulkan sisa-sisa makanan untuk dia pungut dan dibawa entah kemana, dan kejadian ini selalu berulang dan sudah menjadi rutinitasnya. Yang menjadikan ku gelisah apakah program negeriku yang dibuat oleh Pemerintah melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Konpensasi BBM itu sampai kepada orang yang seperti saudara ku itu. Karena disaat yang sama orang sibuk untuk ngantri mendapatkan bantuan BLT, dia malah sibuk tetap dengan makanan sisa tersebut. Apakah dia sudah apatis atau karena mungkin tidak mengetahui informasi atau malah persyaratan untuk mengambil BLT tidak dia miliki,...?,....yang mana dari alasan itu aku tidak tahu pasti, tapi yang aku bisa pastikan adalah keyakinanku yang mengatakan bahwa dia tidak dapat aliran dana berwujud Sinterklas tersebut.

Thursday, October 26, 2006

Inflasi dan Idul Fitri

Hari Raya Idul Fitri 1427 H baru saja berlalu, walau nuansanya masih sangat kental terasa mengisi hari-hari masyarakat kita. Membaca berita di surat kabar yang menginformasikan bahwa perkiraan Inflasi dalam tahun ini bakal di bawah 2 digit, karena kekhawatiran masa-masa yang paling berat dalam tahun ini yang akan memberikan kontribusi terbesar sudah berlalu, dan seolah-olah pencatatan atas kenaikan konsumsi masyarakat atas sandang dan pangan sudah sudah terdata. Oleh sebab itu, seperti berita yang mendahului fakta, disebutkan inflasi sangatlah tidak mengkhawatirkan, dan paling di akhir tahun akan ada kenaikan akibat hari Natal dan tahun Baru.

Melihat uraian tersebut di atas, maka bisa kita coba beberapa simulasi ataupun pengandaian.
1. Inflasi lebih rendah dari yang diperkirakan tentunya akan memberi ruang kepada Bank Indonesia untuk menurunkan kembali tingkat suku bunga
2. Penurunan tingkat suku bunga diharapkan akan merangsang mengalirnya kredit perbankan kepada pihak ketiga untuk menggerakkan sektor riil
3. Bergeraknya sektor riil tentunya akan dapat menaikkan lapangan pekerjaan
4. Naiknya lapangan pekerjaan tentunya akan menyerap tenaga kerja yang pada gilirannya akan mengurangi pengangguran

Itulah antara lain skenario yang bisa melahirkan harapan di masa mendatang, walau tetap diikuti beberapa pertanyaan yang mengkhawatirkan, antara lain :
1. Perlu dilihat secara detail, mengapa begitu optimistiknya akan angka inflasi tersebut, khususnya pemilahan atas belanja masyarakat atas sandang yang tentu berbeda dengan pangan.
2. Apakah penurunan tingkat suku bunga akan sangat efektif untuk menggerakkan sektor riil, dimana beberapa waktu lalu Bank Indonesia juga sudah menurunkan beberapa kali tingkat suku bunga. Dan jangan lupa bahwa kebijakan itu tentu akan berdampak kepada nilai tukar rupiah yang belakangan ini relatif stabil, dimana stabilitas moneter kita belakangan ini tidak merupakan karya kebijakan moneter kita yang sangat ampuh, tapi sangat kita sadari karena kondisi makro ekonomi yang memiliki US$ sedang agak labil.
3. Ternyata penurunan suku bunga yang sudah dilakukan beberapa kali beberapa waktu lalu, tidak signifikan menaikkan lapangan pekerjaan. Penyerapan dana kepada pihak ketiga juga tidak menunjukkan signifikansi yang nyata. Dan ini tentunya menyisakan pertanyaan sendiri lagi, yang katanya adalah diakibatkan masih traumanya pihak Bank untuk menyalurkan dan akepada pihak ketiga karena dihantui pengalaman kredit macet. Atau malah perlu diteliti, alasan tersebut dimunculkan untuk menutupi adanya pemain internal di perbankan yang “mengolah” dana pihak ketiga di pasar uang untuk kepentingan dan keuntungan pribadi di tingkat manajemen bank tersebut
4. Kalau point 3 tidak signifikan, maka skenario untuk penyerapan tenaga kerja melalui regulasi penurunan tingkat suku bunga hanya sebuah mimpi di siang bolong


Akankah Pemerintah dapat mencermati lebih nyata lagi perilaku variabel-variabel ekonomi ini sehingga dapat melahirkan jurus-jurus yang aplikatif demi perbaikan perekonomian kita,..?

Tuesday, October 24, 2006

Ganti Pemain "Tim Kabinet"

Beberapa waktu yang lalu hangat menjadi tontonan sekaligus pandangan masyarakat adalah tentang "jadi atau tidak jadikah" pemain yang ada di tim kabinet untuk diganti atau istilah populernya "reshuffle". Hampir seluruh penonton meneriakkan kepada sang manajer sekaligus pelatih (SBY) agar segera menggantinya kalau ingin tercipta gol yang diharapkan oleh sang manajer maupun seluruh penonton (rakyat Indonesia).
Masyarakat mulai gelisah,..yah itulah kenyataannya, kalau ditanya mereka siapa yang akan diganti oleh siapa pasti masyarakat akan sulit pula menjawabnya, tetapi disamping itu segelintir masyarakat yang pintar dan paham telah pula melakukan beberapa angket untuk memberikan raport dari masing-masing pemain (menteri).

Yang menjadi sorotan utama jelaslah dilingkaran lapangan tengah (magic square) yang menjadi nafas permainan dalam upaya menciptakan aliran permainan yang berakhir dengan gol (pertumbuhan disemua lini), yaitu para pemain ekonomi. Apakah mereka semua harus diganti,...? ah disanakan ada yang diakui oleh banyak orang sudah sangat menguasai bidangnya, sebut saja srikandi yang ada di bagian strategi perencanaan (bappenas), tapi sayangnya atasan srikandi tersebut yakni sang koordinator suka kurang kontrol atau malah mungkin kurang punya skill mengkoordinir lapangan itu, sehingga suka buat bola blunder

Masa paruh pertama permainan sudah memasuki masa injury time, tapi golnya belum tercipta, penonton semakin mendesak untuk pergantian pemain, dan itu merupakan wujud bahwa penonton masih ada perhatian kepada sang manajer. Penonton mulai menduga-duga kalau manajer lagi kesulitan untuk mengambil keputusan karena yang mau diganti sebahagian besar berasal dari sponsor yang mendukung permainan, tapi masyarakat sudah pula mulai tahu kalau para sponsor itu sebahagian besar pula adalah pemain judi yang suka mengambil keuntungan dari permainan yang ada.

Ini saatnya sang manajer harus berani menelan pil pahit dalam bentuk "perubahan", karena untuk menjadi lebih baik harus ada perubahan, walau perubahan itu sendiri tidak menjamin akan lebih baik

Sektor Konstruksi Vs BBM

Kebijakan Pemerintah yang menaikkan harga BBM yang rata-rata diatas 100% (persen) sangat memiliki hubungan nyata terhadap semua sektor di negeri ini. Yang paling nyata, sebut saja sektor konstruksi, yang nyata sekali akan sangat berpengaruh akibat perubahan harga pada BBM. Dengan menyebutkan secara kasar dan kasat mata, maka item-item yang langsung merespon perubahan itu, antara lain : ongkos angkut material, harga material itu sendiri (aspal beton, semen, kayu, batu, pasir, dll) upah tenaga kerja, sewa peralatan, dan sebagainya.
Yang menjadi awal dari terhambatnya progress kegiatan konstruksi ini dilapangan adalah, seperti pekerjaan-pekerjaan Pemeliharaan dan Peningkatan Jalan yang seyogianya sudah harus berakhir pada minggu ini, ternyata progress di lapangan masih menunjukkan keterlambatan yang sangat luar biasa, yakni hanya mencapai 30% (persen), karena komponen terbesar dari kontrak kerja kontraktor tersebut adalah penghamparan aspal beton (pengaspalan). Harga yang mereka miliki pada saat penandatangan kontrak pada waktu sebelumnya ternyata tidak relevan lagi dengan kenyataan yang ada di pasar/lapangan.
Menyikapi hal ini, para kontraktor memasang jurus memperlambat pekerjaan dengan harapan Pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan eskalasi (kenaikan) harga yang bersifat penyesuaian. Tapi kenyataannya, tanda-tanda ke arah itu belum juga digulirkan apalagi ditetapkan oleh Pemerintah.
Sangat ironis, pada saat tahun ini baru saja berlangsung infrastruktur summit, tetapi pada saat yang sama implementasi infrastruktur menunjukkan performance yang buruk. Ketimpangan ini memang kita yakini akan menemukan titik equilibrium yang baru melalui kebijakan yang kita tidak tahu muncul dari mana dan datangnya kapan. Yang menjadi ujian bagi kita adalah mampukah sektor konstruksi bertahan sampai masa itu tiba..?

Konsultan di Indonesia (Fatamorganakah..?)

Pertanyaan ini tentunya bukanlah sesuatu yang baru dalam diri setiap kita yang kesehari-hariannya adalah pelaku jasa konsultan. Kenapa pertanyaan itu muncul dalam benak kita maupun dalam bincang-bincang sesama kita yang memiliki profesi dimaksud,..? Setidaknya mindset kita sudah diisi oleh pertanyaan demi pertanyaan yang akhirnya melahirkan segumpal kegelisahan akan eksistensi keberadaan kita ditengah-tengah pasar yang membutuhkan jasa konsultansi. Kenapa menjadi gelisah, tentunya pertanyaan-pertanyaan ikutan akan senantiasa berbaris mengejar ilusi kita sambil meniti diri mencari peluang demi peluang yang terasa semakin menyempit.
Upaya pencitraan diri akan eksistensi konsultan di tengah-tengah pasar jasa konsultansi tentunya tidak pernah surut kita lakukan. Usia seperempat abad akan dunia konsultansi di Indonesia setidaknya dirasa dan dipandang relatif sudah memadai untuk mensosialisasikan diri akan pentingnya peranan konsultan dilibatkan. Namun tidak dapat pula kita pungkiri, upaya sosialisasi tersebut dibarengi pula dengan banyaknya nilai-nilai minus dari sesama kita didalam memberikan pelayanan kepada pengguna jasa yang berakhir dengan kekecewaan. Oleh sebab itu perlambatan akan pertumbuhan image positif di tengah pasar jasa konsultansi tentunya akan terjadi, dan bukan hanya itu, kenyataannya bukan sekedar perlambatan tetapi adalah pesimisme yang muncul dari pengguna jasa dan telah membentuk bola salju. Hal ini tidak dapat dipungkiri, karena memang sudah menjadi hasrat alam, bahwa yang baik dan baik dibuat dan dikerjakan akan bertumbuh dengan pelan walau pasti, tidak seperti kebalikannya, yakni perbuatan yang jelek walau sekali saja akan menjeneralisir semua yang lain yang tidak buruk menjadi buruk.

Oleh sebab itu, menyalahkan pasar (baca: pemerintah) dimana para pengguna jasa berkumpul tentunya bukanlah hal yang bijaksana tanpa pernah bercermin di dalam ruang diri kita sebagai penyedia jasa. Dan kejadian ini semakin berulang serta berlarut-larut dan akhirnya membentuk image keberadaan konsultan seperti ada dan tiada. Kerap kali disadari keberadaan itu hanyalah sebuah fatamorgana, yang terlihat dikejauhan ada namun kenyataannya tidak ada. Dan hal yang lebih jauh lagi, sikap pesimisme dari pengguna jasa juga menyulut semakin menguatnya kehadiran fatamorgana itu. Kita dan sesama kita kemudian berkumpul dan bersepakat untuk menaruh protes dan amarah, seraya berkata bahwa pengguna jasa harus memberi tempat dan kesempatan kepada kita untuk berperan di dalam kegiatan itu. Tapi kita lupa bahwa mereka sudah pernah memberi kesempatan itu dan tentu enggan untuk mengulanginya, karena akan dihadapkan kepada masalah pertanggungjawaban yang pada gilirannya menuntut harga yang sangat mahal.
Tapi sangat ironis memang, walau secara sadar dan tidak sadar keberadaan konsultan dapat diibaratkan sebagai fatamorgana, namun tidak pernah menyurutkan semangat dan keinginan kita untuk tetap menjalani kegiatan tersebut didalam kesehari-harian kita. Tentunya hal ini tetap melahirkan kembali pertanyaan apakah karena kita kesulitan untuk meninggalkan kondisi ini untuk berpaling ke dunia bisnis yang berbeda,..?
Membaca release berita belakangan ini di beberapa mediacetak, tentunya juga sudah mencerminkan kegelisahan apa yang sudah disampaikan sebelumnya. Betapa tidak, mulai dari kepedulian pemerintah yang terasa sangat mengkhawatirkan akan keberadaan kita sampai dengan pasar-pasar konsultan yang seyogianya menjadi tempat untuk kita berperan telah pula ditiadakan. Pemakluman demi pemakluman telah dilakukan, tapi akankah pemakluman itu sendiri akan menjadi rumus mujarab akan perbaikan kedepan,..? Tidak dapat dipungkiri, dunia usaha jasa konsultansi di Indonesia yang beranggotakan hampir 6000 perusahaan masih mengandalkan dana yang bersumber dari belanja pemerintah sebagai pasar yang masih layak direbut. Keterbatasan demi keterbatasan telah sering kita dapatkan. Rumus-rumus penting pelayanan kerap kita telah tunjukkan, namun keberadaan kita tetap dalam ambang fatamorgana yang semakin menebal. Wujud daya saing yang sering didengung-dengungkan berubah menjadi daya lobbying by pressure. Bisnis konsultan yang mengandalkan rumus-rumus tersebut telah bergeser menjadi bisnis komoditi maupun image. Konsultan bukan lagi menjadi sebuah layanan tapi tak lain adalah sebuah komoditi yang senantiasa diperdagangkan.

Keberadaan kondisi ini telah menyeret kita ke arah kemelaratan dan kebangkrutan walau disisi lain memberi ruang bagi sebagian yang mengandalkan dirinya sebagai komoditi yang siap diperdagangkan. Tapi kenyataan ini harus tetap dibukakan, dan bukanlah merupakan kecengengan yang harus dan sekedar tersampaikan, tapi lebih dari itu adalah sebuah kekhawatiran dan peringatan bahwa di depan telah nyata bahwa yang menjadi problema buat eksistensi keberadaan dunia konsultan nasional di dalam mendapatkan pasar bukanlah sekedar hal-hal yang telah diutarakan tersebut, tetapi yang lebih besar lagi adalah munculnya pesaing-pesaing yang datang dari dunia internasional yang tidak dapat ditolak kehadirannya untuk mengambil jatah-jatah proyek yang semakin sedikit dan sulit untuk didapatkan. Akankah kita menjadi pesaing yang kuat terhadap mereka, atau partnership (kalau mereka berbaik hati). Hal ini tentu masih tetap menyisakan kekhawatiran dan kegelisahan lainnya. Namun jika itu adanya tentunya masih sangat melegakan, daripada kita nggak pernah dianggap ada di negeri tercinta ini, karena mungkin mereka telah mengetahui keberadaan kita yang tak lebih hanyalah sebuah fatamorgana.

Monday, October 16, 2006

"Iklim"

Keberadaan ïklim" kita saat ini relatif lebih menenangkan dibanding masa-masa sebelumnya. Iklim yang dimaksud dalam oretan ini adalah situasi dimana kita bisa hidup dalam suasana kesehari-harian yang kita jalani dan memiliki interaksi terhadap orang lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung